Karena Harapan Itu Akan Selalu Ada

Di Kabupaten Sumba Barat Daya, pendidikan masih menjadi pekerjaan panjang yang membutuhkan kerjasama dari berbagai pihak. Salah satu permasalahan pendidikan terbesar yang dihadapi oleh para tenaga pendidik di Sumba Barat Daya adalah kemampuan literasi dan numerasi para siswa. Hasil Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) yang diadakan oleh Pusmenjar pada tahun 2019 menunjukkan bahwa 76,15% siswa di Nusa Tenggara Timur memiliki kompetensi membaca terkategori kurang. Persentase ini lebih tinggi dari rerata nasional yaitu 55,85%.  

Arnoldus Zangadu, salah satu guru SD di Sumba Barat Daya yang masih berjuang untuk memperbaiki tingkat literasi dan numerasi para siswa. Beliau sempat merasa skeptis karena setiap hari harus berhadapan dengan berbagai tantangan dalam mengajarkan murid-muridnya membaca, menulis,dan berhitung. Iklim sekolah yang kurang mendukung dan minimnya keterlibatan orangtua, membuat beliau terkadang merasa frustasi dalam mengajar. 

Dulu, beliau merasa bahwa mengajar para murid perlu menggunakan  cara yang keras agar mereka bisa memahami pelajaran. Apalagi beliau merupakan guru kelas VI. Masih banyak anak di kelasnya yang belum bisa membaca, menulis dan berhitung dengan baik. 

“Saya pernah berkata kepada murid-murid saya, ‘Percuma saja kalian di kelas VI, membaca saja tidak bagus.’ Saya pun simpulkan, semua anak-anak di sini sama saja. Jadi, mau diajar bagaimanapun akan tetap sama. Saya frustasi waktu itu dan tidak tahu harus gunakan cara seperti apa lagi dalam mengajar. Segala cara sudah dicoba, tapi tidak bisa buat mereka paham. Konsentrasi mereka terbatas, tidak bisa fokus mendengarkan saya ketika mengajar. Saya kadang gunakan kekerasan agar mereka takut dan mau dengar instruksi saya, kata Pak Arnold. 

Persepsi terhadap kemampuan siswa dan kegundahan dalam mengemban tugas sebagai guru SD ternyata tidak hanya dirasakan oleh Pak Arnold tetapi juga dialami oleh para guru lainnya. Banyak guru yang menghadapi tantangan yang sama dan belum menemukan jalan keluar agar para siswa dapat menyusul ketertinggalan di bidang literasi dan numerasi.  

Berangkat dari permasalahan inilah, William & Lily Foundation bersama Kelas Lentera Kuark berinisiatif untuk meningkatkan kemampuan para guru melalui pelatihan dan pendampingan intensif “Pengembangan Literasi dan Numerasi dalam Kontekstual Sumba Barat Daya melalui Pembelajaran Inkuiri.”

Di awal program, Pak Arnold memperlihatkan sikap skeptis tentang pentingnya mengubah cara mengajar yang telah belasan tahun dilakoninya, termasuk persepsinya terhadap para murid. Ketika model pengembangan pelatihan dan pendampingan dengan model inkuiri  yang mendorong guru menemukan dan menciptakan secara mandiri diperkenalkan, Pak Arnold merasa tertantang untuk mencoba.

Paparan hasil temuan awal William & Lily Foundation bersama Tim Kelas Lentera Kuark kepada Pak Arnold dan para guru tentang kondisi kognitif siswa dan kesiapan belajar juga melunakkan hati guru untuk lebih berempati terhadap siswa. Pak Arnold pun semakin mengenal kondisi siswanya bahwa banyak batu pijakan yang harus dibangun untuk membantu anak-anaknya menjadi mandiri dalam belajar. Hal ini membuat Pak Arnold semakin bersemangat untuk belajar dan perbaiki diri. 

“Saya kaget waktu dikasih tahu temuan awal anak-anak murid saya seperti apa. Ternyata mereka dites psikologi tertinggal 3 tahun di usianya. Pantas saja susah sekali rasanya mengajar mereka. Ternyata kami sebagai guru harus bangun pondasi dasarnya dulu. Batu-batu untuk mereka bisa baca, tulis hitung dan jadi mandiri. Jadi kami harus ubah cara kami mengajar,” ungkap Pak Arnold.

Pak Arnold pun kemudian tertantang untuk mengimplementasikan metode-metode yang diberikan selama program pelatihan. Berbagai metode ia coba, seperti SMART (Senam, Motorik, Aktif, Riang, dan Semangat)  untuk menguatkan kesiapan motorik anak dalam belajar, metode literasi dengan pra-saat dan pasca-baca, metode Konkret-Gambar-Abstrak (KGA) dalam mengajarkan numerasi secara kontekstual, dan metode inkuiri sebagai budaya belajar yang menumbuhkan keingintahuan siswa. Jiwa pembelajar semakin tumbuh pada diri beliau. 

“Pembelajaran literasi, selama ini kita lebih banyak berpikir literasi baca saja. Kalau sekarang banyak variasinya, tidak hanya aspek membaca, bisa menulis, menyimak, mendengarkan, bahkan drama. Untuk numerasi, selama ini sifatnya abstrak, angka-angka. Sekarang prosesna bisa gunakan metode KGA (Konkrit, Gambar, Abstrak). Bagus sekali anak-anak perubahannya. Lebih berani dan aktif juga,” kata Pak Arnold. 

Setelah melakukan cara-cara baru secara konsisten, Pak Arnold mulai merasakan perubahan pada siswanya. Perubahan-perubahan ini membuatnya semakin percaya pada kemampuan anak-anaknya. Beliau mulai percaya bahwa selama guru mampu memberikan pembelajaran dengan cara yang tepat, sesuai dengan kondisi siswa, anak-anak pasti bisa. 

“Sekarang saya tersadar. Pikiran saya yang sebelumnya mengasumsikan bahwa anak-anak di sekolah saya sama saja, mau diajar bagaimanapun tetap akan sama, ternyata keliru. Selama ini mungkin cara saya saja yang belum tepat atau mungkin perlu kekonsistenan dalam menjalankan. Saya menyadari pentingnya saya sebagai guru untuk terus belajar dan mampu memahami anak dengan lebih baik.” 

Growth mindset yang mulai tumbuh karena pelatihan dan pendampingan dengan model inkuiri, membentuk Pak Arnold menjadi pribadi pembelajar. Beliau banyak melakukan praktik baik pengembangan metode belajarnya. Dari mulai praktik literasi menulis tangan rapih, praktik numerasi menggunakan metode KGA dengan benda kontekstual SBD, hingga pembelajaran inkuiri untuk mengasah keingintahuan dan kreativitas siswa. Beliau hadirkan pembelajaran yang eksploratif, dan siswa menjadi pusatnya. 

“Sekarang guru sebagai pemandu. Anak-anak sangat menikmati belajar. Mereka tidak dalam posisi tertekan dan hanya mendengar saja. Kita buat proses pembelajaran untuk anak ini menjadi proses yang sifatnya bermain”, ungkap Pak Arnold. 

Saat pandemi Covid-19 menghantam dunia pendidikan, Pak Arnold pun tidak menyerah dengan keadaan yang serba terbatas. Bekal yang didapat selama pelatihan dan pendampingan, membuat Pak Arnold mampu berpikir adaptif dalam melakukan pembelajaran jarak jauh saat masa BDR (Belajar dari Rumah). 

“Kami buat LKS yang baik. Banyak proyek yang dekat dengan anak. Seteleh dibuat kita pun tidak bisa kirim lewat wa. Jadi kita antar ke rumah anak-anak dan damping belajar,”  ungkap Pak Arnold.  

Tidak dapat belajar secara online, bukan berarti anak-anaknya harus berhenti belajar. Beliau membentuk kelompok murid yang rumahnya berdekatan, dan menyiapkan LKS (Lembar Kerja Siswa) yang bersifat proyek yang dekat dengan anak. 

Tak hanya itu,  persepsi terhadap siswa yang berubah dan juga pemahaman pengajaran yang lebih baik juga membawa perubahan secara personal terhadap diri Pak Arnold. Dikenal sebagai guru bertangan besi, saat ini berubah menjadi sosok guru yang diidolakan. Bukan hanya oleh anak-anak, namun juga oleh orangtua. 

“Kalau dulu di anak saya, Rasti, ia sangat takut dengan Pak Arnold. Tapi sekarang anak saya Agim, tidak terlalu takut, malah lebih dekat. Dulu anak-anak kalau ada salah main tangan, tetapi sekarang tidak. Hanya ditegur saja, makanya anak-anak senang dengan beliau. Mungkin sekitar dua tiga tahun ini ada perubahan. Proses mengajarnya juga lebih aktif. Anak-anak senang dengan guru”, ungkap Siti Aminah, Orangtua siswa SDN Waikelo.

Tidak berhenti hanya di kelasnya, banyaknya perubahan yang dirasakan Pak Arnold memicu beliau untuk terus bergerak dan mulai berbagi. Pak Arnold kini mulai nyalakan lenteranya di komunitas sekitarnya. Pak Arnold membagikan praktik-praktik baik dalam literasi dan numerasi pada rekan guru di sekolah, antar sekolah, forum KKG (Kelompok Kerja Guru), maupun di forum antar KKG. Beliau juga sebagai kontributor penulis untuk Buku Perkusi (Pedoman Inkuiri, Literasi dan Numerasi) serta Buku Berbagi Praktik Baik Literasi, Numerasi dan Inkuiri.  

Beliau juga semakin aktif menginisiasi berbagai program inovatif pengembangan kompetensi guru pada KKG di gugusnya. Sebagai Ketua KKG Gugus V, beliau juga membuat berbagai program kerja pemberdayaan guru sebagai guru pembelajar, seperti berbagi praktik baik literasi dan numerasi dan  pembuatan lembar kerja yang konstekstual. 

“Saya berharap, keberhasilan praktik baik saya ini, bisa menginspirasi guru lainnya dalam melakukan pembelajaran di kelasnya masing-masing. Sehingga, perubahan seperti ini tidak hanya dirasakan oleh saya sendiri, tetapi juga oleh guru lainnya”, ujar Pak Arnold.