Kemandirian Masyarakat Sumba untuk Memperkuat Perekonomian dan Ketahanan Pangan Lokal dalam Menghadapi COVID-19

Melalui dukungan dari William & Lily Foundation (WLF),Yayasan Harapan Sumba (YHS) melakukan upaya tanggap darurat COVID-19 untuk mendorong masyarakat di Sumba Barat Daya membangkitkan kembali perekonomian dan meningkatkan ketahanan pangan lokal. Tanggap darurat ini diimplementasi selama enam bulan dari bulan Juli hingga Desember 2020. Dengan berpartisipasi dalam aksi bersama melakukan pencegahan dan penanganan dampak pandemi, YHS dan WLF memfasilitasi masyarakat dengan pelatihan cara membuat masker, disinfektan, dan hand sanitizer yang hasilnya didistribusikan kepada masyarakat. Selain itu, masyarakat juga diajak memperkuat ketahanan pangan lokal melalui pendistribusian bibit tanaman dan pelatihan budidaya hortikultura.

Aksi bersama tanggap tanggap darurat ini berangkat dari dampak pandemi yang mempengarui aspek sosial dan ekonomi. Dampak sosial dan ekonomi sangat dirasakan dengan terhentinya kegiatan sosial keagamaan, adanya pengangguran massal, lumpuhnya aktivitas ekonomi hingga membawa pengaruh bagi kesehatan mental. Kebijakan untuk tetap tinggal di rumah dan bekerja dari rumah yang ditetapkan pemerintah mungkin akan berubah sewaktu-waktu saat itu mendorong masyarakat untuk terus meningkatkan kemampuan adaptasi dan menerapkan kebiasaan baru sebagai solusi yang lebih realistis.

“Sebenarnya sudah banyak organisasi masyarakat, relawan dan dunia usaha yang sudah turut berkontribusi melalui berbagai cara. Namun, upaya yang sudah dilakukan kebanyakan bersifat sukarela dengan keterbatasan sumber daya pendukung. Sebagian besar, pola intervensi masih berupa bantuan material dan belum mengupayakan pemberdayaan masyarakat dan keberlanjutan. Maka kami berinisiatif menyempurnakan upaya penanggulangan COVID-19 melalui pemberdayaan masyarakat demi manfaat yang berkelanjutan,” jelas Stefanus Segu, Direktur YHS sekaligus penanggung jawab program tanggap darurat.

Melihat fenomena yang ada, penanganan dampak pandemi di Sumba Barat Daya ini dilakukan dengan menekankan pemberdayaan dan peningkatan kemampuan adaptasi masyarakat. Maka dari itu, Yayasan Harapan Sumba mengimplementasi tanggap darurat melalui pemberdayaan masyarakat, mulai dari para ibu perwakilan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), para pemuda dari kelompok keagamaan, perwakilan lingkungan sekolah, dan penjahit lokal. 

Sebanyak 141 orang perwakilan masyarakat dan lingkungan sekolah yang terlibat dalam pelatihan berhasil memproduksi 116 liter hand sanitizer dan 950 liter disinfektan. Hasil produksi ini didistribusikan kepada masyarakat umum dan 43 sekolah sasaran. Sementara, 18 penjahit lokal yang difasilitasi dengan pelatihan produksi masker sukses memproduksi sebanyak 15.118 masker, terdiri dari 10.556 buah masker anak dan 4.562 buah masker dewasa, yang didistribusikan kepada 27 SD dan 16 SMP. Hasil ini pun berhasil memberikan penghasilan sebesar lebih dari 75 juta rupiah bagi 18 penjahit lokal. Untuk menyebarkan pengetahuan dan meningkatkan kemandirian masyarakat dengan cakupan yang lebih luas, proses produksi didokumentasikan menjadi video tutorial sederhana dan booklet sebagai panduan.

Seperti yang ditekankan Stefanus sebelumnya, tanggap darurat ini menindaklanjuti pandemi COVID-19 melalui pemberdayaan masyarakat untuk menciptakan manfaat jangka panjang. Ternyata, masyarakat Sumba Barat Daya tidak hanya diajak berlatih memproduksi kebutuhan perlindungan pada masa pandemi, tetapi juga mengembangkan ketahanan lokal melalui budidaya hortikultura. 

Sebanyak 21 jenis bibit tanaman sayur dan tiga jenis bibit tanaman buah-buahan didistribusikan kepada 114 orang petani dari 12 kelompok di 11 desa. Setelah itu, 90 orang petani difasilitasi pelatihan pembuatan pupuk organik dan obat-obatan alami. Dari pelatihan ini, hasil produksi pupuk organik mencapai 5.680 kg dan 81 liter obat-obatan alami. Praktik budidaya hortikultura pun dikembangkan di 12 desa yang telah memiliki air dan lahan potensial.

“Pada penghujung program, YHS dan WLF mengimplementasi pembuatan demplot di satu lokasi untuk mendukung ketersediaan dan pelestarian bibit padi gogo wangi, jagung, dan kacang-kacangan lokal. Diharapkan seluruh upaya budidaya hortikultura ini dapat meningkatkan ketahanan pangan lokal. Hasilnya tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, tetapi juga dapat dijadikan sumber pendapatan tambahan,” jelas Stef.