Menumbuhkan Toleransi Siswa Usia Dini Melalui Program Ayo Berteman

“Kita seperti sudah punya teman aja di Sumba, padahal belum pernah ketemu tatap muka. Ketika lagi ada kegiatan apa, pikirannya langsung kita punya teman di sana. Di tiap pembelajaran, selalu kita kaitkan dengan Sumba,” cerita Ibu Magdalena, Guru Sekolah Dasar (SD) Ora et Labora, Tangerang Selatan, Banten.

Sejak 2017, siswa kelas 1-3 SD Ora et Labora telah menjalin persahabatan dengan murid-murid Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Generasi Bibit Unggul di Sumba Timur, Nusa Tenggara Barat melalui program Ayo Berteman. Program ini digagas oleh William & Lily Foundation (WLF) bekerja sama dengan mitra pelaksana C4Change.ID. WLF berupaya mendorong pengembangan kemampuan sosio-kognitif dan memperluas perspektif para siswa dengan memberikan stimulasi nilai-nilai positif, yaitu toleransi atau penerimaan terhadap perbedaan budaya, kasih sayang, keterbukaan, rasa syukur, serta rasa percaya diri dan keyakinan para siswa atas potensi yang mereka miliki

Untuk mencapai tujuan tersebut, program Ayo Berteman focus untuk memperkuat pengajaran nilai-nilai positif diantara siswa kedua sekolah serta meningkatkan kemampuan para guru dalam mengajarkan nilai-nilai positif kepada para siswa. Hingga akhir tahun ajaran 2020, siswa kedua sekolah saling berbagi cerita tentang kegiatan mereka sehari-hari, memberi semangat serta inspirasi cita-cita surat menyurat, saling berkirim karya, pengumpulan donasi dan mainan, serta pemutaran video di sekolah.

Selama implementasi program Ayo Berteman, para guru mengintegrasikan pelaksanaan seluruh kegiatan tersebut dalam kegiatan belajar dan kurikulum sekolah. “Saat guru sedang mengajarkan sesuatu, kita langsung kaitkan. Misalnya temanya tentang bersyukur, langsung kita kaitkan dengan kegiatan berbagi dan bersyukur yang ada di Ayo Berteman,” ujar Ibu Magdalena. Kegiatan lain juga dilaksanakan dengan metode serupa. Misalnya, kegiatan menulis surat yang isinya disesuaikan dengan tema belajar, membaca surat dari siswa PAUD Generasi Bibit Unggul pada saat Ibadah Jumat bersama, atau pemutaran video saat belajar.

Para guru juga saling berbagi video tanya jawab metode mengajar. Video tersebut direkam di masing-masing sekolah, lalu dijawab oleh para guru lewat video lain yang diputar di sekolah masing-masing. Pertanyaan yang diajukan para guru diantaranya tentang bagaimana para guru mendampingi siswa PAUD yang lokasi rumahnya jauh, bagaimana pembagian kelasnya di PAUD, atau bagaimana memberikan materi ke murid apabila belum ada bahan ajar yang sesuai topik.

“Lewat Ayo Berteman ini, banyak hal baru yang didapat. Kegiatan saling bertanya para guru adalah salah satu yang membuat kami semangat. Jadi kami bercerita apa kewalahan kami di PAUD, lalu kami bertanya bagaimana teman-teman di Ora et Labora. Lalu guru-guru di sana bercerita, “Oh begini caranya””, papar Ibu Marselina, guru PAUD Generasi Bibit Unggul.

Namun pelaksanaan Ayo Berteman bukannya tanpa tantangan. “Saat mengirim surat atau karya kita menemukan tantangan jadwal logistik. Karena surat tidak bisa langsung segera dibalas. Pada saat shooting video juga demikian. Jadi kita harus pintar mengatur waktu dan jadwal,” cerita Ibu Magdalena. Selain itu, para guru juga menemukan kendala komunikasi karena terbatasnya listrik dan sinyal di Sumba Timur.

Untuk mengatasi semua tantangan itu, Ibu Magdalena memiliki resep tersendiri. “Harus punya rasa ingin berteman dulu. Bahwa kegiatan ini bukanlah suatu keharusan. Harus ada kerinduan untuk menjalin komunikasi, menerapkan ke murid-murid sehari-hari,” ujarnya, “Jadi sudah mengalir saja dan dikaitkan terus dengan kegiatan di sekolah.

Para guru di SD Ora et Labora dan kepala sekolah PAUD Generasi Bibit Unggul juga terlibat langsung merencanakan dan memberi ide kegiatan. “Kami berdiskusi dengan para pihak pelaksana program, kegiatan apa yang menarik. Tadinya hanya tulis surat, kita kembangkan jadi membuat video. Ini terasa jadi program bersama, bukan hanya program WLF saja,” ujar Ibu Magdalena. Di setiap akhir kegiatan, para guru juga melakukan refleksi, monitorig berkala dan evaluasi sehingga dapat melihat perubahan yang terjadi dan yang perlu diperbaiki.

“Mereka ingin tahu Sumba di mana, seperti apa kegiatan anak-anak di sana. Rasanya sudah seperti punya teman saja di sana padahal belum pernah bertemu. Harapan kami, semoga nanti kita bisa bertemu langsung, entah di Sumba Timur atau di Jakarta. Juga, karena sekarang kita sudah berteman selama tiga tahun, jangan sampai kita jadi tidak berteman lagi. Semoga kita selalu berkomunikasi atau saling memberi update walau tidak bisa sesering dulu,” tutup Ibu Magdalena.