Pentingnya Peranan Guru dalam Mewujudkan Pariwisata Berkelanjutan di Sumba Barat Daya

Jika pendidikan adalah salah satu syarat bagi setiap individu untuk berkontribusi di beragam bidang pekerjaan, maka guru menjadi salah satu faktor penentu masa depan mereka. Di tengah potensi alam yang berlimpah sebagai daya tarik industri wisata , Sumba Barat Daya (SBD) memiliki sumber daya manusia yang masih harus berhadapan dengan berbagai tantangan dan peluang. Salah satunya adalah bagaimana mengoptimalkan peranan guru sebagai salah satu ujung tombak pengembangan pariwisata, terutama dalam ekosistem Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) pariwisata.

Jika pendidikan adalah salah satu syarat bagi setiap individu untuk berkontribusi di beragam bidang pekerjaan, maka guru menjadi salah satu faktor penentu masa depan mereka. Di tengah potensi alam yang berlimpah sebagai daya tarik industri wisata , Sumba Barat Daya (SBD) memiliki sumber daya manusia yang masih harus berhadapan dengan berbagai tantangan dan peluang. Salah satunya adalah bagaimana mengoptimalkan peranan guru sebagai salah satu ujung tombak pengembangan pariwisata, terutama dalam ekosistem Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) pariwisata.

Melalui program Penguatan Ekosistem Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pariwisata di Sumba Barat Daya, DESMA Center dan WLF memberikan wadah bagi para guru di dua sekolah dampingan yaitu SMKN 2 Kota Tambolaka dan SMKS Pancasila untuk mengasah kualitas diri. Dalam kurun waktu dua tahun, para guru diharapkan lebih siap untuk mencetak lulusan SMK pariwisata yang kompetitif. Siapa sangka, para guru masih semangat untuk belajar bahkan praktik langsung di industri pariwisata.

Menurut Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMKS Pancasila, Dominggus Ama Kii, S.Pd, materi manajemen pariwisata merupakan hal baru yang didapatkannya melalui program pengembangan ekosistem ini. Selain itu, pelatihan pengembangan buku saku magang yang diakui Dominggus melengkapi pengetahuan yang sudah pernah dimilikinya. Cukup menjadi perhatian khusus, dirinya menggarisbawahi kesempatan berinteraksi langsung dengan travel agent berkat beberapa pelatihan yang difasilitasi oleh Desma Center.
“Karena berhubungan langsung dengan para agen wisata dan penyedia jasa, kami belajar apa saja kemampuan siswa yang perlu diasah untuk dapat menyesuaikan permintaan dunia usaha. Misalnya manajemen perhotelan dan front office yang kedengarannya simpel, tapi sangat esensial,” jelas Dominggus.

Sebagai Wakil Kepala Sekolah Kurikulum yang dekat dengan dengan para guru, Dominggus membimbing guru untuk dapat membawakan pembelajaran yang tepat sasaran. Keterlibatannya di dalam program mendorongnya untuk memberi dukungan lebih bagi para guru. Ditekankan Dominggus bahwa dirinya mendukung para guru untuk tidak hanya mengajarkan materi di kelas sesuai pemetaan, tapi juga memahami potensi dan kekurangan para siswa untuk dapat mengasah kompetensi mereka sesuai kebutuhan masing-masing.
“Sekarang kami sudah tau maunya dunia usaha. Tapi untuk pengaplikasiannya di tengah para siswa menjadi tantangan tersendiri. Kompetensi guru adalah yang utama yang harus dipacu,” tambahnya.

Dalam meningkatkan kompetensi guru, Sania, salah satu guru di SMK Pancasila menyatakan bahwa dukungan industri usaha pariwisata juga sangat diperlukan karena keterbatasan fasilitas sekolah. Sehingga, pelatihan tour planning & guiding sempat difasilitasi oleh representasi industri pariwisata menjadi strategi yang tepat sasaran.
“Terbatasnya guru produktif dengan latar belakang sesuai menjadi keharusan bagi kami untuk terus belajar. Kami membutuhkan fasilitasi untuk meningkatkan kompetensi kami melalui praktik langsung,” tegas Sania.

Istimewanya, program ini menyebarkan manfaat yang tidak terbatas pada dua SMK dampingan. DESMA Center membuka kesempatan bagi lima SMK pariwisata lainnya di SBD untuk turut mengambil manfaat melalui partisipasi dalam kegiatan-kegiatan lokakarya. Salah satunya Titik Palupi selaku Kepala Sekolah SMK Bakti Luhur turut berbagi pengalamannya berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan pendampingan. Sama dengan pengalaman para tenaga pengajar sekolah dampingan, Titik terkesan dengan pendampingan terkait perhotelan, karena menurutnya, banyak guru yang belum pernah berkesempatan untuk mendalami materi tersebut, khususnya manajemen housekeeping dan front office. Selain itu, Titik mengaku sangat terdukung melalui rangkaian kegiatan sister school yang diawali dengan beberapa pendampingan langsung dari SMKN 3 Denpasar.

“Melalui pertemuan dengan SMKN 3 Denpasar, gerbang kami untuk belajar jadi terbuka. Kami berkesempatan dihubungkan dengan salah satu hotel di Kuta Bali untuk mengikuti program guru magang selama satu bulan di antara bulan Juni dan Juli 2021 ini,” ungkap Titik.
Empat guru berkesempatan diberangkatkan dengan dukungan dana BOS untuk meningkatkan kualitas dan kemampuan melalui praktik langsung manajemen perhotelan. Hal ini menjadi poin penting bagi SMK Bakti Luhur untuk membantu mengatasi keterbatasan guru dengan latar belakang yang bukan dari bidang pariwisata. Sebagian besar guru SMK Bakti Luhur berasal dari pendidikan bahasa asing.

“Kami percaya, ini menjadi kesempatan unik bagi kami. Walaupun kami bukan sekolah dampingan program, DESMA Center telah membuka jalan dan kesempatan bagi kami untuk terus mengembangkan diri yang selama ini menjadi tantangan dalam mempersiapkan para siswa kami,” tambah Titik.