Revitalisasi PAUD HI Dorong Kreativitas Guru Ciptakan Kegiatan Belajar Sesuai Kebutuhan Anak di Sumba Barat Daya

“Biasanya sebelum penetapan tahun ajaran baru, kita membuat program belajar per semester. Setelahnya kita buat program belajar mingguan dan harian. Ada modul yang bisa kita download untuk menjadi panduan membuat rencana belajar. Tapi agak sulit memahami prosesnya. Kadang kita copy-paste saja,” kenang Samni, guru PAUD Azzahra 3 Katewel, Desa Letekonda, Kecamatan Loura, Kabupaten Sumba Barat Daya.

Kabupaten Sumba Barat Daya memiliki 266 PAUD yang tersebar di 11 kecamatan . Namun peningkatan kapasitas bagi guru PAUD terbilang masih minim. Studi yang dilakukan oleh IBU Foundation pada 2020 menunjukkan hanya sekitar 38% guru yang pernah mendapatkan pelatihan Kurikulum 2013. Namun mereka belum dapat menerapkannya dalam kegiatan pengajaran karena belum maksimalnya pelatihan yang diberikan.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam melaksanakan layanan PAUD Holistik dan Integratif (PAUD HI) yang dicanangkan Pemerintah Indonesia sejak tahun 2013. Padahal, layanan PAUD HI diluncurkan menjamin terpenuhinya hak tumbuh kembang anak usia dini dalam hal pendidikan, kesehatan dan gizi, pengasuhan serta perlindungan dan kesejahteraan anak untuk menekan tingginya angka stunting. Angka stunting di Kabupaten Sumba Barat Daya sendiri cukup tinggi, yaitu mencapai 39,98%, di atas rata-rata angka stunting nasional yaitu 30,8% (Riset Kesehatan Dasar, 2018).

Dengan semangat meningkatkan layanan PAUD, pada tahun 2019, Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya bersama dengan Yayasan William dan Lily dan Sumba Integrated Development (SID) meluncurkan program Revitalisasi Layanan PAUD HI di 13 desa di 3 kecamatan – Kodi Utara, Loura dan Kota Tambolaka.

Program ini berfokus pada peningkatan kapasitas guru dan pengelola PAUD, kader posyandu, kader Bina Keluarga Balita (BKB) dan bidan desa serta organisasi perangkat daerah di tingkat kabupaten terkait pelaksanaan PAUD HI. Selain itu, untuk mendorong keberlanjutan dan koordinasi revitalisasi PAUD HI, pemerintah kabupaten juga membentuk Gugus Tugas PAUD HI di tingkat kabupaten hingga desa.

“Saya pertama kali tahu tentang PAUD HI pada tahun 2019. Waktu itu kami diundang ikut sosialisasi di tingkat kecamatan. Lalu saya bagi ilmu yang  didapat ke guru-guru PAUD di desa dan juga ke orang tua murid,” ujar Samni yang juga merupakan salah satu anggota Gugus Tugas PAUD HI di desanya.

Layanan PAUD HI pun secara perlahan mulai terwujud di PAUD Azzahra 3 Katewel. Para guru mulai memperkenalkan konsep tanggap darurat bencana dan perlindungan terhadap kekerasan seksual kepada murid sesuai umurnya serta melibatkan orang tua dalam mempersiapkan makanan tambahan untuk anak (PMT).

Pemerintah Desa Letekonda juga ikut turun memastikan layanan PAUD HI dapat berjalan. “Desa membantu koordinasi antara PAUD dan posyandu. Para guru PAUD kini rutin membawa murid PAUD ke posyandu untuk imunisasi,” ujar Samni.

Revitalisasi layanan PAUD HI juga ikut meningkatkan kapasitas guru PAUD. “Dulu saat menyusun rencana belajar, saya sulit memahami petunjuk yang ada. Tapi sekarang saya lebih mengerti bagaimana membuat rencana belajar yang baik sesuai kebutuhan murid. Kami jadi tahu bahwa ternyata sudah ada kegiatan kami yang masuk dalam kategori PAUD HI, dan kegiatan apa yang perlu kami tambahkan agar sejalan dengan PAUD HI. Saya juga jadi tahu kaitan pendidikan dengan layanan dasar lainnya untuk anak,” papar Samni bangga.

Samni mengatakan bahwa peran Gugus Tugas PAUD HI amat besar dalam keberhasilan pelaksanaan layanan, “Peran Gugus Tugas PAUD HI sangat besar. Gugus Tugas di tingkat kecamatan selalu memberi arahan dan melakukan monitoring.”

Sebagai bagian dari penguatan kapasitas guru PAUD, SID kembali mengadakan Pelatihan Training of Trainers Kurikulum 2013 pada awal tahun 2021 untuk 28 guru PAUD di 3 kecamatan. Pada kegiatan ini, para guru mendapat pelatihan kembali tentang penyusunan program belajar semester, mingguan dan harian, standar akreditasi PAUD, serta melakukan simulasi praktik mengajar dengan pemateri dari Dinas Pendidikan Kabupaten Sumba Barat Daya.

“Rata-rata guru PAUD di Sumba Barat Daya adalah lulusan SMA dan kami tidak mempunyai ilmu pendidikan yang lengkap. Kami berharap program pelatihan tentang media belajar dan kurikulum seperti ini dapat terus berlanjut. Sehingga kami selalu bisa me-review metode yang kami buat. Dengan adanya pelatihan, kami jadi lebih paham cara menyusun kurikulum pendidikan yang sesuai kebutuhan. Pemikiran kami pun jadi lebih terbuka. Guru juga jadi lebih kreatif membuat media belajar dari barang-barang yang ada di sekitar kami, jadi tidak perlu harus selalu beli seperti dulu,” ujar Samni.